Sebuah Jurnal Perjalanan Hidup Sang Putri Kecil Bapa

Semua tentang kisah perjuangan putri kecil Bapa

Jumat, 10 Juni 2011

Pertobatan yang sejati


Saya ingin bersaksi tentang awal pertobatan dan penyerahan hidup saya dimana saya mengalami cinta mula-mula. Saya adalah seorang pelayan Tuhan yang sudah beberapa tahun melayani Tuhan tetapi tidak tahu arti melayani yang sebenarnya sampai akhirnya Tuhan menjamah hidup saya secara pribadi.

                Kristen sejak lahir sama ternyata tidak menjamin aku telah mengalami kasih Yesus yang tanpa syarat. Aku dibesarkan oleh kedua orangtuaku. Papaku sebenarnya adalah orang yang hangat, sabar, suka bercanda, penuh kasih sayang dan sederhana. Berbeda sekali dengan Mamaku. Beliau begitu dingin dan tidak bisa mengungkapkan rasa sayang dengan cara benar. Dahulu aku sangat kepahitan dengan Mamaku. Mama selalu memarahiku kalau nilai ujianku jelek, tetapi ketika nilai ujianku bagus Mama tidak pernah memujiku. Mama sering memukuliku karena kesalahan-kesalahan kecil yang aku perbuat. Beda lagi dengan cara Papa mendidikku. Papa selalu mendidikku dengan syarat. Jika aku bisa mencapai target-target tertentu, Papa akan memberi reward atas kerja kerasku. Tanpa aku sadari, aku telah menjadi orang yang sangat ambisius. Berkali-kali mengalami kegagalan, sehingga aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.
Kehidupan di sekolah juga terasa begitu menyebalkan bagiku. Aku bersekolah di sekolah swasta yang didominasi oleh etnis tertentu sejak taman kanak-kanak hingga SMA. Dan diskriminasi ras begitu kental di sana dan aku adalah salah satu korban diskriminasi itu. Aku tidak cukup punya banyak teman hingga SMP karena tidak banyak yang mau berteman dengan orang golongan minoritas sepertiku. Ternyata kondisi seperti ini membentukku menjadi orang yang ingin selalu menonjol. Aku selalu ingin membuktikan bahwa orang sepertiku pun bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Budaya konsumtif dan hedonisme mulai mempengaruhiku. Lagi-lagi karena lingkungan sekolah. Rata-rata siswa di sekolahku adalah putra-putri orang berduit. Bisa beli ini, bisa beli itu, pergi kemana-mana oke. Masa-masa SMP adalah masa-masa tersuramku, karena aku banyak sekali melakukan dosa. Suka membaca komik-komik yang tidak benar, membohongi orang tua demi mendapatkan uang supaya aku bisa bermain game online, tidak suka pergi ke Gereja ataupun persekutuan doa. Hingga SMA, aku hidup dengan luka-luka yang tidak pernah terbereskan. Waktu SMA, aku memutuskan melayani Tuhan dan masih dengan luka-luka dan penolakan di masa lalu. Aku tahu bahwa Tuhan itu baik, aku tahu Tuhan itu mengasihiku, aku tahu Tuhan tidak pernah terlambat menolong umatNya, aku tahu Tuhan itu maha adil, maha tahu dan panjang sabar, aku tahu Tuhan itu penyembuh, aku tahu Yesus mati di kayu salib karena Dia mengasihiku tetapi aku hanya sekedar tahu. Aku tidak mengalami semuanya itu.
Aku bertobat secara sungguh-sungguh ketika aku berada di bangku universitas, ketika aku semester 2. Sejak semester 1, aku memang sudah ‘ditangkap’ oleh komunitas Kristen yang ada di kampus itu. Tetapi aku akui, pertobatan dan penyerahan diriku sepenuhnya kepada Tuhan adalah ketika di semester 2. Aku jatuh ke dalam dosa percabulan dan ketidakkudusan setelah aku putus dengan mantan pacarku. Aneh bukan? Akibat terlalu frustasi putus dengan pacar, aku mencari pelarian. Sampai akhirnya aku terjatuh. Saat itu aku merasa tidak layak, aku sangat berdosa. Waktu itu aku sudah melayani Tuhan, tetapi aku malah tidak memiliki buah seorang hamba Tuhan. Aku berpikir: “Aku sudah sangat berdosa. Aku hina, aku kotor. Apa Yesus masih mau menerimaku? Apa Yesus masih mengasihiku?”
Selama beberapa hari aku tidak berdoa karena aku sangat malu untuk datang ke hadirat Tuhan. Sampai suatu hati aku memberanikan diriku untuk bercerita kepada dua orang pembimbing wanita di persekutuan doa komunitas di kampusku. Aku bercerita kepada mereka apa yang terjadi padaku. Aku menangis. Aku tidak layak. Aku mengakui semua dosa-dosa yang telah aku lakukan. Setelah itu, mereka mendoakanku. Saat itu baru aku mengalami kasih Yesus yang tanpa syarat.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menyerahkan seluruh hidupku untuk Yesus. Sejak saat itu, banyak pemulihan-pemulihan yang dilakukanNya terhadap luka-luka masa laluku. Aku dapat mengampuni Mamaku, bahkan sekarang hubunganku dengan Mama jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sejak saat itu, mulai banyak perkara-perkara yang dipercayakanNya untuk kukerjakan. Semuanya dimulai dari pertobatan. Dan sejak pertobatan itu hingga sekarang aku tetap mengalami pertobatan-pertobatan dalam diriku. Aku hanya heran, Tuhan mau memakai orang dengan masa lalu sepertiku. Aku heran Tuhan mau memakai orang yang penuh dengan luka seperti diriku. Aku heran Tuhan mau memakai wanita berdosa sepertiku sebagai alat kerajaanNya. Hidupku dipakai dan dibentuk secara luar biasa olehNya. Aku bersyukur aku mengenalNya. Jadi, siapa pun kalian yang membaca kesaksianku, seperti apa pun masa lalumu, seburuk apa pun itu, ingatlah selalu kisah hidupku. Dia mengasihimu dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan.
Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milikNya sendiri; yang tidak bertahan dalam murkaNya untuk seterusnya melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” Mikha 7: 18-19

0 komentar:

Posting Komentar